Pusat Penjualan Alat Pengukur Kadar Air Berkualitas
Random header image... Refresh for more!

Artikel

 

 

Jamur Aflatoksin

Jamur aflatoksin pada jagung

Tumbuhnya jamur pada jagung dapat disebabkan karena kadar air jagung yang masih tinggi atau bisa juga karena gudang penyimpanan lembab. Jagung yang berjamur ini jika masih tetap digunakan dapat merugikan peternak, karena jamur dapat menyebabkan penurunan kadar nutrisi pada jagung dan infeksi penyakit aspergillosis (mycotic pneumonia atau gangguan pernapasan). Selain itu, jamur juga menghasilkan racun seperti aflatoksin, ocratoksin, fusariotoksin. Adanya racun jamur tersebut akan mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh ayam (immunosuppressive), gangguan pada organ (paru-paru maupun kantung udara) sampai kematian.

Adanya jamur yang tumbuh pada jagung bisa dengan mudah dimatikan, namun tidak demikian dengan racun jamur. Racun jamur relatif stabil (masih tetap ada) terhadap perlakuan fisik, kimia maupun biologi. Oleh karena itu, saat jagung telah terkontaminasi jamur maka sebaiknya jagung tersebut tidak digunakan dalam penyusunan ransum ayam.

Pencampuran antara jagung yang telah terkontaminasi jamur dengan jagung yang belum terkontaminasi bisa saja dilakukan, hanya saja perlu kita ketahui pencampuran jagung ini bisa menjadi pemicu atau mempercepat tumbuhnya jamur pada jagung yang masih baik. Selain itu, saat pencampuran kita harus mengetahui kadar mikotoksin dari jagung yang terkontaminasi, sehingga saat pencampuran kadar mikotoksinnya bisa berkurang dibawah batas maksimal (untuk ayam kadar aflatoksin < 50-60 ppb). Racun jamur yang terkonsumsi akan tersimpan dalam tubuh ayam dan akan menimbulkan gejala klinis saat kadarnya di dalam tubuh telah melebihi ambang batas aman.

Penambahan toxin binder atau pengikat racun seperti zeolit, bentonit atau hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) juga dapat dilakukan untuk mengikat racun jamur tersebut sehingga pengaruh pada tubuh ayam dapat dikurangi. Hanya saja penambahan toxin binder ini memerlukan biaya tambahan dan juga teknik pencampurannya harus dilakukan dengan benar sehingga bisa tercampur homogen. Pada kasus kontaminasi jamur ini, langkah pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Pencegahan tumbuhnya jamur pada jagung dapat dengan beberapa cara diantaranya :

Saat penyimpanan usahakan kadar air jagung tidak lebih dari 14%. Semakin rendah kadar air akan semakin baik, pertumbuhan jamur dapat ditekan. Jamur akan tumbuh secara optimal saat kadar air bahan baku ransum atau ransum 15-20% disimpan pada suhu 30-32oC. Beberapa jamur mempunyai karakteristik suhu spesifik guna mendukung pertumbuhannya secara optimal, seperti jamur Aspergillus yang akan tumbuh optimal di suhu 22-32oC, Penicillium disuhu 17-30oC dan Fusarium akan tumbuh optimal pada suhu 2-15oC

Perhatikan manajemen penyimpanan jagung yang baik, yaitu :

Terapkan sistem penyimpanan secara first in first out (FIFO) dimana jagung yang disimpan lebih dahulu harus digunakan lebih awal

Gunakan alas (pallet) di bawah tumpukan karung jagung agar jagung tidak lembab

Jaga kondisi atap jangan sampai bocor dan mengenai tumpukan jagung

Minimalkan penggunaan karung tempat penyimpanan jagung secara berulang, terutama saat kondisi cuaca dan kelembaban berubah

Jika perlu tambahkan mold inhibitor (penghambat tumbuhnya jamur), seperti asam propionat atau asam organik lainnya

Perhatikan lama penyimpanan jagung, hendaknya jagung disimpan tidak lebih dari 1 bulan. Bentuk fisik jagung juga berpengaruh terhadap lama waktu penyimpanan jagung. Jagung pecahan akan lebih cepat terkontaminasi jamur dibandingkan jagung butiran, oleh karena itu penyimpanan jagung pecahan hendaknya lebih pendek dibandingkan jagung butiran

Sebisa mungkin cegah adanya serangga, baik yang hidup di luar maupun di dalam jagung. Serangga ini bisa merusak lapisan pelindung biji jagung sehingga mampu memicu tumbuhnya jamur

Selama penyimpanan jagung hendaknya dilakukan pengecekan jagung secara rutin dan jika ada jagung yang sudah terkontaminasi jamur hendaknya segera diambil dan dipisahkan

Obat antijamur juga dapat diberikan pada ayam untuk mengatasi infeksi jamur, yaitu :

Ketoconazole, dosis : 10 mg/kg atau 30-65 ppm dalam ransum

Griseofulvin, dosis : 15-20 mg/kg BB. Biasanya digunakan untuk pengobatan pada hewan kecil (anjing, kucing, dll)

Nistatin, dosis 3.000 IU/kg BB

Pemberian obat ini bisa dilakukan melalui oral dengan dicampurkan dalam ransum.

sumber : info.medion.co.id

Yang paling utama adalah pencegahan agar jamur aflatoksin tidak menyerang dalam jagung, yaitu membeli jagung yang benar-benar kering dengan bantuan alat ukur kadar air, sehingga kemungkinan mendapatkan jagung lembab / basah ataupun jagung kering yang dicampur jagung basah bisa diminimalkan dan terhindar akan kemunculan aflatoksin dalam jagung tersebut.

 

 

Potensi Tepung dari Sorgum (Sorghum bicolor L.)

 

Iklim tropis di Indonesia sangat mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman pangan. Salah satu tanaman tropis yang mudah tumbuh di Indonesia yang hingga saat ini belum banyak dimanfaatkan adalah sorgum. Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili Gramineae, termasuk juga padi, jagung, dan gandum (Kusmiadi, 2011). Pemanfaatan sorgum di Indonesia masih kurang kurang populer dan belum optimal. Selama ini sorgum hanya dijadikan sebagai pakan ternak, padahal sorgum sangat cocok untuk dijadikan sebagai komoditas agroindustri karena ketahanannya yang tinggi pada kondisi kering, daya adaptasi terhadap lahan tinggi, serta biaya produksi yang rendah (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996). Suhu optimum yang diperlukan sorgum untuk tumbuh berkisar antara 25-30°C. Sorgum juga tidak terlalu peka terhadap pH tanah. Kandungan pati biji sorgum juga cukup tinggi yaitu sekitar 83%, sedangkan kadar lemak dan proteinnya sebesar 3.60% dan 12.3% (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996). Kandungan pati sorgum yang cukup tinggi, sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai tepung. Beras mempunyai kandungan pati sekitar 82%, lemak 0.8%, dan protein 6%. Hal tersebut menunjukkan bahwa komposisi ketiga zat gizi (protein, lemak, pati) pada sorgum setara dengan beras, bahkan lebih baik.

Daerah yang berpotensi untuk pengembangan sorgum di Indonesia sangat luas. Daerah tersebut meliputi daerah beriklim kering atau memiliki musim hujan yang pendek serta tanah yang kurang subur. Daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional adalah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sudaryono, 1996). Pengembangan sorgum juga berperan dalam meningkatkan ekspor non-migas. Menurut Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan, volume ekspor sorgum Indonesia ke Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Malaysia mencapai 1.092,40 ton atau senilai US$ 116.211. Kondisi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mengekspor sorgum dalam bentuk yang lebih optimal, misalnya dijadikan sebagai tepung.

Selama ini pemanfaatan tepung terigu dalam bidang pangan di Indonesia cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang diolah oleh Kementerian Perdagangan, impor tepung terigu mencapai 775 ribu ton. Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) mencatat pangsa pasar terigu di dalam negeri tumbuh sebesar 10,5% selama 2010. Pangsa pasar terigu naik dari 3.970.815 metrik ton (MT) di 2009 menjadi 4.388.849 MT pada tahun 2010. Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies mengatakan kenaikan pangsa pasar itu justru dinikmati oleh terigu impor dengan pertumbuhan 18,8% selama tahun 2010. Tahun 2008, volume terigu impor hanya 530.914 MT atau 15,09% menguasai pangsa pasar lokal, tahun 2009 volumenya meningkat menjadi 645.010 MT atau 16,24% dari pangsa pasar lokal dan tahun 2010 volumenya melonjak menjadi 762.515 MT atau menguasai 17,37% pangsa pasar dalam negeri. Berdasarkan catatan Aptindo, konsumsi terigu di dalam negeri pada tahun 2012 mencapai 1,22 juta ton atau naik 5,61% dibandingkan periode tahun 2011 yang tercatat 1,15 juta ton.

Pemanfaatan sorgum sebagai bahan substitusi terhadap tepung terigu dapat dimanfaatkan oleh industri pangan di Indonesia untuk meminimalisasi penggunaan impor tepung terigu. Tumbuhnya industri turunan seperti biskuit dan mie instan dapat dijadikan sebagai salah satu optimalisasi tepung sorgum. Adanya tepung sorgum ini diperkirakan dapat mengurangi pangsa pasar impor tepung terigu yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selain itu, jika memang preferensi dari masyarakat terhadap tepung sorgum tinggi maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menghentikan impor tepung terigu dan lebih mengoptimalkan pangan lokal. Melihat potensi sorgum di Indonesia dan banyaknya penggunaan tepung pada bahan pangan, maka tidak menutup kemungkinan tepung sorgum dapat menjadi primadona di kalangan agroindustri Indonesia.

Oleh: Sakinah Ulfiyanti, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor

sumber : miti.or.id

 

 

Cargill buka pengolahan kakao pertama di Asia senilai US$100 juta

 

Perusahaan pangan asal AS, Cargill melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik pengolahan kakao (coklat) US$ 100 juta atau hampir Rp 1 triliun. Pabrik tersebut berlokasi di Kawasan Industri Maspion V Gresik, Jawa Timur.

“Kami sangat senang sampai pada tahap ini dalam memperkuat bisnis kami di Indonesia. Kami telah melihat pertumbuhan yang signifikan akan permintaan produk kakao dalam negeri. Dengan adanya investasi ini memungkinkan kami untuk mendukung pertumbuhan dan pemrosesan kakao lokal, dan menyediakan produk kakao dengan kualitas yang baik untuk melayani kebutuhan pertumbuhan pelanggan kami di Asia,” kata Presiden Cargill Cocoa & Chocolate Jos De Loor dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/5/2013)

Tujuan dibangunnya pabrik baru untuk merangsang pertumbuhan dan pengembangan sektor kakao di Asia dalam memenuhi permintaan yang naik terhadap produk kakao di kawasan ini.

Pabrik ini akan menjadi pabrik pengolahan kakao pertama Cargill di Asia, sebagai komitmen Cargill mengembangkan dan menumbuhkan industri kakao di Indonesia dan Asia.

Proyek ini akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja baru di Indonesia, demikian juga berbagai posisi di bagian penelitian dan pengembangan kakao yang sebelumnya telah ada di Kuala Lumpur dan Beijing, untuk melayani kebutuhan pelanggan di Asia.

Pabrik ini yang diperkirakan akan rampung pada pertengahan 2014, akan membutuhkan sekitar 70,000 metrik ton biji kakao untuk memproduksi berbagai produk untuk kebutuhan pasar Asia. Hasil dari produksinya akan berbentuk bubuk, cairan dan lemak kakao (butter), termasuk produk bubuk premium kakao Gerkens®.

Fasilitas baru ini merupakan bagian dari strategi Cargill dalam mengantisipasi pertumbuhan sektor kakao Indonesia dan upaya perusahaan untuk mendukung produksi kakao berkelanjutan secara global.

Cargill telah memulai program pelatihan petani yang terbilang cukup sukses di Indonesia yang mendorong penggunaan praktik pertanian berkelanjutan oleh petani kecil.

Cargill menargetkan untuk melatih lebih dari 1.300 petani kakao Indonesia pada tahun 2015 melalui Sekolah Pelatihan Lapangan untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao dan sebagai hasil dari pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani kecil dan keluarga mereka.

Sejak kami beroperasi tahun 1995, saat ini Cargill memiliki dua lokasi pembelian bahan baku biji kakao yaitu di Makassar dan Palu, dan nanti saat pabrik baru ini beroperasi, Cargill akan melipat gandakan pembelian biji kakao dari petani untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri, yang memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk memasarkan hasil panen mereka.

“Kami melihat bahwa untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus meningkat dan untuk mendorong perkebunan kakao masa depan, kami harus memproduksi sendiri untuk memenuhi rantai pasokan tersebut, melalui kerja sama dengan petani kecil, pelanggan dan pemerintah daerah untuk menghidupkan industri kakao Indonesia di masa depan. Hubungan kami dengan petani kakao telah terjalin selama bertahun-tahun, di sejumlah Negara dan wilayah di luar Indonesia,” katanya.

Hadir dalam acara peletakan batu pertama di Gresik dihadiri oleh Gubernur JawaTimur Dr. H. Soekarwo, Bupati Gresik Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto, Wakil dari Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian, Kementerian Perindustrian, Deputi Kepala BKPM Bapak Azhar Lubis, Presiden Cargill Cocoa & Chocolate Jos De Loor serta Job Leuning, Kepala Divisi Bisnis Kakao di Asia, dan perwakilan pemerintah daerah.

sumber : http://finance.detik.com