Pusat Penjualan Alat Pengukur Kadar Air Berkualitas
Random header image... Refresh for more!

Artikel

KOPI ARABIKA DAN KOPI ROBUSTA, APA BEDANYA?

Biji kopi jenis robusta lebih bulat dan biji kopi arabika yang lebih lonjong

Penggemar kopi sejati mungkin sudah hafal akan bedanya kopi robusta dan kopi arabika serta memiliki kesukaannya sendiri. Tapi masih banyak juga orang yang meminum kopi tanpa tahu bahwa dua jenis kopi ini sebenarnya memiliki ciri khasnya masing-masing. “Yaa, apapun kopinya, yang penting ngopi, deh,” mungkin beberapa berpikiran demikian. Tidak masalah memang, tapi lumayan juga untuk nambah-nambah pengetahuan baru, kan? Nah, buat pembaca yang ingin tahu lebih jauh tentang apa bedanya kopi robusta dan kopi arabika, ini beberapa di antaranya.

Dari segi bentuk, biji kopi jenis robusta lebih bulat dan arabika cenderung lebih lonjong. Pada struktur bijinya keduanya juga terdapat perbedaan, sehingga proses roasting yang digunakan tidak sama.

arabika robusta

perbedaan kopi arabika dengan kopi robusta

Karena dapat ditanam di daerah yang punya ketinggian rendah, penanaman kopi jenis robusta lebih gampang ditemui dibanding arabika. Tak hanya itu, tanaman kopi robusta juga lebih cepat berkembang dan memproduksi buah, tak seperti arabika yang membutuhkan beberapa tahun untuk matang serta memerlukan lahan yang lebih besar. Namun, meskipun terdengar lebih sulit, kopi arabika memiliki keunggulannya sendiri, terutama dari segi rasa.

Dibanding kopi robusta yang biasanya memiliki rasa yang lebih kuat dan ‘kasar’, kopi arabika mempunyai karakter rasa yang lebih kaya. Pembaca dapat merasakan berbagai hint rasa baik buah-buahan, beri-berian, coklat maupun kacang-kacangan, sementara robusta cenderung hanya memiliki aftertaste kacang-kacangan.

Kandungan kafein di kedua jenis kopi ini juga berpengaruh terhadap rasa yang dimilikinya. Robusta memang memiliki kadar kafein dua kali lebih banyak, namun ini berakibat pada rasa kopinya yang lebih pahit. Selain itu, jenis arabika juga memiliki kandungan gula dan lipid yang lebih tinggi daripada robusta sehingga lebih manis saat diminum tanpa perlu menggunakan gula.

Karena kompleksitas rasa ini, banyak pecinta kopi yang lebih memilih kopi arabika sebagai favorit mereka. Tanamera Coffee juga memutuskan untuk menggunakan seratus persen kopi arabika asli Indonesia sebagai komoditas utamanya. Ingin mencoba kopi arabika dari Tanamera Coffee? Anda dapat langsung mengunjungi laman ini http://tanameracoffee.com/product-category/beans/single-origin/

sumber : https://tanameracoffee.com/kopi-arabika-dan-kopi-robusta-apa-bedanya

Jamur Aflatoksin

Jamur aflatoksin pada jagung

Tumbuhnya jamur pada jagung dapat disebabkan karena kadar air jagung yang masih tinggi atau bisa juga karena gudang penyimpanan lembab. Jagung yang berjamur ini jika masih tetap digunakan dapat merugikan peternak, karena jamur dapat menyebabkan penurunan kadar nutrisi pada jagung dan infeksi penyakit aspergillosis (mycotic pneumonia atau gangguan pernapasan). Selain itu, jamur juga menghasilkan racun seperti aflatoksin, ocratoksin, fusariotoksin. Adanya racun jamur tersebut akan mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh ayam (immunosuppressive), gangguan pada organ (paru-paru maupun kantung udara) sampai kematian.

Adanya jamur yang tumbuh pada jagung bisa dengan mudah dimatikan, namun tidak demikian dengan racun jamur. Racun jamur relatif stabil (masih tetap ada) terhadap perlakuan fisik, kimia maupun biologi. Oleh karena itu, saat jagung telah terkontaminasi jamur maka sebaiknya jagung tersebut tidak digunakan dalam penyusunan ransum ayam.

Pencampuran antara jagung yang telah terkontaminasi jamur dengan jagung yang belum terkontaminasi bisa saja dilakukan, hanya saja perlu kita ketahui pencampuran jagung ini bisa menjadi pemicu atau mempercepat tumbuhnya jamur pada jagung yang masih baik. Selain itu, saat pencampuran kita harus mengetahui kadar mikotoksin dari jagung yang terkontaminasi, sehingga saat pencampuran kadar mikotoksinnya bisa berkurang dibawah batas maksimal (untuk ayam kadar aflatoksin < 50-60 ppb). Racun jamur yang terkonsumsi akan tersimpan dalam tubuh ayam dan akan menimbulkan gejala klinis saat kadarnya di dalam tubuh telah melebihi ambang batas aman.

Penambahan toxin binder atau pengikat racun seperti zeolit, bentonit atau hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) juga dapat dilakukan untuk mengikat racun jamur tersebut sehingga pengaruh pada tubuh ayam dapat dikurangi. Hanya saja penambahan toxin binder ini memerlukan biaya tambahan dan juga teknik pencampurannya harus dilakukan dengan benar sehingga bisa tercampur homogen. Pada kasus kontaminasi jamur ini, langkah pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Pencegahan tumbuhnya jamur pada jagung dapat dengan beberapa cara diantaranya :

Saat penyimpanan usahakan kadar air jagung tidak lebih dari 14%. Semakin rendah kadar air akan semakin baik, pertumbuhan jamur dapat ditekan. Jamur akan tumbuh secara optimal saat kadar air bahan baku ransum atau ransum 15-20% disimpan pada suhu 30-32oC. Beberapa jamur mempunyai karakteristik suhu spesifik guna mendukung pertumbuhannya secara optimal, seperti jamur Aspergillus yang akan tumbuh optimal di suhu 22-32oC, Penicillium disuhu 17-30oC dan Fusarium akan tumbuh optimal pada suhu 2-15oC

Perhatikan manajemen penyimpanan jagung yang baik, yaitu :

Terapkan sistem penyimpanan secara first in first out (FIFO) dimana jagung yang disimpan lebih dahulu harus digunakan lebih awal

Gunakan alas (pallet) di bawah tumpukan karung jagung agar jagung tidak lembab

Jaga kondisi atap jangan sampai bocor dan mengenai tumpukan jagung

Minimalkan penggunaan karung tempat penyimpanan jagung secara berulang, terutama saat kondisi cuaca dan kelembaban berubah

Jika perlu tambahkan mold inhibitor (penghambat tumbuhnya jamur), seperti asam propionat atau asam organik lainnya

Perhatikan lama penyimpanan jagung, hendaknya jagung disimpan tidak lebih dari 1 bulan. Bentuk fisik jagung juga berpengaruh terhadap lama waktu penyimpanan jagung. Jagung pecahan akan lebih cepat terkontaminasi jamur dibandingkan jagung butiran, oleh karena itu penyimpanan jagung pecahan hendaknya lebih pendek dibandingkan jagung butiran

Sebisa mungkin cegah adanya serangga, baik yang hidup di luar maupun di dalam jagung. Serangga ini bisa merusak lapisan pelindung biji jagung sehingga mampu memicu tumbuhnya jamur

Selama penyimpanan jagung hendaknya dilakukan pengecekan jagung secara rutin dan jika ada jagung yang sudah terkontaminasi jamur hendaknya segera diambil dan dipisahkan

Obat antijamur juga dapat diberikan pada ayam untuk mengatasi infeksi jamur, yaitu :

Ketoconazole, dosis : 10 mg/kg atau 30-65 ppm dalam ransum

Griseofulvin, dosis : 15-20 mg/kg BB. Biasanya digunakan untuk pengobatan pada hewan kecil (anjing, kucing, dll)

Nistatin, dosis 3.000 IU/kg BB

Pemberian obat ini bisa dilakukan melalui oral dengan dicampurkan dalam ransum.

sumber : info.medion.co.id

Yang paling utama adalah pencegahan agar jamur aflatoksin tidak menyerang dalam jagung, yaitu membeli jagung yang benar-benar kering dengan bantuan alat ukur kadar air, sehingga kemungkinan mendapatkan jagung lembab / basah ataupun jagung kering yang dicampur jagung basah bisa diminimalkan dan terhindar akan kemunculan aflatoksin dalam jagung tersebut.

 

 

Potensi Tepung dari Sorgum (Sorghum bicolor L.)

 

Iklim tropis di Indonesia sangat mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman pangan. Salah satu tanaman tropis yang mudah tumbuh di Indonesia yang hingga saat ini belum banyak dimanfaatkan adalah sorgum.
Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili Gramineae, termasuk juga padi, jagung, dan gandum (Kusmiadi, 2011). Pemanfaatan sorgum di Indonesia masih kurang kurang populer dan belum optimal. Selama ini sorgum hanya dijadikan sebagai pakan ternak, padahal sorgum sangat cocok untuk dijadikan sebagai komoditas agroindustri karena ketahanannya yang tinggi pada kondisi kering, daya adaptasi terhadap lahan tinggi, serta biaya produksi yang rendah (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996). Suhu optimum yang diperlukan sorgum untuk tumbuh berkisar antara 25-30°C. Sorgum juga tidak terlalu peka terhadap pH tanah. Kandungan pati biji sorgum juga cukup tinggi yaitu sekitar 83%, sedangkan kadar lemak dan proteinnya sebesar 3.60% dan 12.3% (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996). Kandungan pati sorgum yang cukup tinggi, sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai tepung. Beras mempunyai kandungan pati sekitar 82%, lemak 0.8%, dan protein 6%. Hal tersebut menunjukkan bahwa komposisi ketiga zat gizi (protein, lemak, pati) pada sorgum setara dengan beras, bahkan lebih baik.

Daerah yang berpotensi untuk pengembangan sorgum di Indonesia sangat luas. Daerah tersebut meliputi daerah beriklim kering atau memiliki musim hujan yang pendek serta tanah yang kurang subur. Daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional adalah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sudaryono, 1996). Pengembangan sorgum juga berperan dalam meningkatkan ekspor non-migas. Menurut Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan, volume ekspor sorgum Indonesia ke Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Malaysia mencapai 1.092,40 ton atau senilai US$ 116.211. Kondisi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mengekspor sorgum dalam bentuk yang lebih optimal, misalnya dijadikan sebagai tepung.

Selama ini pemanfaatan tepung terigu dalam bidang pangan di Indonesia cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang diolah oleh Kementerian Perdagangan, impor tepung terigu mencapai 775 ribu ton. Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) mencatat pangsa pasar terigu di dalam negeri tumbuh sebesar 10,5% selama 2010. Pangsa pasar terigu naik dari 3.970.815 metrik ton (MT) di 2009 menjadi 4.388.849 MT pada tahun 2010. Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies mengatakan kenaikan pangsa pasar itu justru dinikmati oleh terigu impor dengan pertumbuhan 18,8% selama tahun 2010. Tahun 2008, volume terigu impor hanya 530.914 MT atau 15,09% menguasai pangsa pasar lokal, tahun 2009 volumenya meningkat menjadi 645.010 MT atau 16,24% dari pangsa pasar lokal dan tahun 2010 volumenya melonjak menjadi 762.515 MT atau menguasai 17,37% pangsa pasar dalam negeri. Berdasarkan catatan Aptindo, konsumsi terigu di dalam negeri pada tahun 2012 mencapai 1,22 juta ton atau naik 5,61% dibandingkan periode tahun 2011 yang tercatat 1,15 juta ton.

Pemanfaatan sorgum sebagai bahan substitusi terhadap tepung terigu dapat dimanfaatkan oleh industri pangan di Indonesia untuk meminimalisasi penggunaan impor tepung terigu. Tumbuhnya industri turunan seperti biskuit dan mie instan dapat dijadikan sebagai salah satu optimalisasi tepung sorgum. Adanya tepung sorgum ini diperkirakan dapat mengurangi pangsa pasar impor tepung terigu yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selain itu, jika memang preferensi dari masyarakat terhadap tepung sorgum tinggi maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menghentikan impor tepung terigu dan lebih mengoptimalkan pangan lokal. Melihat potensi sorgum di Indonesia dan banyaknya penggunaan tepung pada bahan pangan, maka tidak menutup kemungkinan tepung sorgum dapat menjadi primadona di kalangan agroindustri Indonesia.

Oleh: Sakinah Ulfiyanti, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor

sumber : miti.or.id